persis seperti sungai, ia hanya mengalirkan saja air yang lewat, airnya tidak berawal dan berakhir dan ia mengalir asri karena penuh dengan kelenturan, dikatakan demikian sebab tidak ada pembunuhan kebijakan yang lebih sadis dari pujian orang. sebaliknya, makian orang disamping bisa menjadi kritik konstruktif, ia juga bisa menjadi asal muasal dari frustasi yang berkepanjang.
telah menjadi harapan nyaris semua orang agar hidupnya bisa berjalan dalam kaidah-kaidah yang dinilai sukses. demikian kuatnya keyakinan itu, sehingga hampir semua energi dan waktu manusia telah dialokasikan untuk mencapai tujuan terakhir ini. kendati ukuran, kriteria, pedoman dan kaidah sukses masih tetap relatif dari dulu hingga sekarang.
agak berbeda dengan sejumlah orang yang menempatkan ilmu sukses seperti menu yang siap disantap, padahal idealnya adalah menempatkan ilmu-yang mana pun-hanya sebagai bahan yang siap olah. sehebat apapun sebuah bahan, ia tetap memerlukan ketekunan dan kecermatan tukang olah, agar bisa berakhir pada kondisi sukses.
belajar dari sungai dan mencoba memaknai sungai , rupanya sungai tidak hanya melahirkan suara gemercik yang membuat hati sejuk, melainkan juga banyak menyimpan kearifan sukses. ada 7 kearifan sukses ala sungai :
1. coba perhatikan proses bagaimana air bisa mengalir asri disungai, bahwa semua semua komponen keasrian tersebut menyatu menjadi satu saling melengkapi seperti rajutan kain yang rapi (air, tanah, batu pophon sampai dengan rumput).
2. lihatlah sungai dan lihatlah kembali, ia bukan lagi sungai yang sama karena setiap detik airnya berganti. orang bijak menyebut masa lalu sebagai kenangan, dan masa depan sebagai bayangan. kedua-duanya tidak bisa disentuh. beda utama diantara ke\duanya hanya terletak pada cara memperlakukan masa kini.
3.keasrian sungai hanya terjaga bila airnya mengalir, jika tidak maka akan terjadi pembusukan disana-sini. 4. sudah menjadi sifat sungai, bahwa kehadirannya senantiasa menghadiahkan kesuburan pada tempat yang dialirinya dan sulit diingkari bahwa disaat musim hujan ia juga bisa menghadirkan bencana. seperti kehidupan sungai juga hadir dalam dua wujud yang saling melengkapi : menyuburkan sekaligus membawa bencana.kebahagian yang lebih permanen setelah belajar dari sungai hanya akan muncul jika seseorang mampu menerima dan berhasil mengelola dualitas positif negatif.
5.mencermati aliran sungai, sulit sekali mengidentifikasi siklus mana awal mana akhir. demikian juga dengan kehidupan bahwa tidak sedikit manusia yang melihat kehidupan seperti tangga, hanya merasa sukses ketika berada diatas. dalam logika kesempurnaan, semua hal dibandingkan dengan apa-apa yang kita nilai sempurna. namun karena awal dan akhir tidak jelas, maka frustasi mudah muncul.
6. mendengarkan gemercik air disungai baik dalam keadaan normal maupun banjir ia senantiasa terdenga gembira, seolah-olah air disungai menikmati sekali bagaimana kehidupan sedang tersenyum kepadanya, seperti kata vivekananda: "pikiran, kata-kata dan tindakan kita adalah benang rajutan yang kita tenun pada diri kita sendiri".
7.bila eksistensi bisa disederhanakan kedalam kegiatan menerima dan memberi, sungai termasuk perlambang yang banyak memberi.
Sabtu, 10 Oktober 2009
Kamis, 08 Oktober 2009
Ambigu "Hot Tea"
Terlahir sebagai seorang pengembara yg tidak pernah dibatasi oleh waktu, telah memberiku kemerdekaan untuk selalu beraktifitas tanpa diperbudak oleh sebuah rutinitas intip-intip jam. aku menikmati hidupku, karena tidak semua orang memiliki kemerdekaan seperti diriku. setiap saat saya dapat menikmati secangkir "HOT TEA" tanpa harus terganggu atau gelisah oleh bunyi sellularku. seperti angin aku mengembara melintasi bukit dan lautan menangkap inspirasi liar yang sulit untuk dijinakkan.
secangkir "HOT TEA" masih setia menemaniku...
sebuah realitas yang setiap saat menggedor-gedor dinding nuraniku yang seketika akan merinding menyaksikan negaraku yang semakin hari sensor budayanya sebagai bangsa yang beradab semakin lemah. euporia HAM yang salah kaprah telah melegitimasi segelintir orang tentang arti sebuah kemerdekaan dan kebebasan. mestikah kita menjadi buta dan tuli menyaksikan generasi muda kita digiring kedalam pusaran dekadensi moral ?
aku menyeruput secangkir "HOT TEA" yang mulai dingin dan pesimis...
secangkir "HOT TEA" masih setia menemaniku...
sebuah realitas yang setiap saat menggedor-gedor dinding nuraniku yang seketika akan merinding menyaksikan negaraku yang semakin hari sensor budayanya sebagai bangsa yang beradab semakin lemah. euporia HAM yang salah kaprah telah melegitimasi segelintir orang tentang arti sebuah kemerdekaan dan kebebasan. mestikah kita menjadi buta dan tuli menyaksikan generasi muda kita digiring kedalam pusaran dekadensi moral ?
aku menyeruput secangkir "HOT TEA" yang mulai dingin dan pesimis...
dg. sija "hot tea"
Warkop dg. sija di sore hari dengan secangkir hot tea. listrik padam... katanya adanya kerusakan mesin pembangkit... katanya debit air yg kurang sehingga tdk mampu memutar urbin secara maksimal... lagu lama yang sudah kadaluarsa.... suka atau tidak, senang atau tidak pihak pln tetap menyanyikan lagu tersebut, peduli kita mau muntah, gatal-gatal karena alergi toh mereka tetap saja tdk perduli.... sebab jika mereka mau peduli dengan masyarakat, maka sebagai propesional jauh-jauh hari mereka sudah mengantisipasi segala kemungkinan, bukan cari penjual payung disaat sudah basah. ah... tidur lagi kata mbah surip almarhum he..he..he....!
secangkir HOT TEA, hanya dialah yg mampu memahami kegundahanku...
secangkir HOT TEA, hanya dialah yg mampu memahami kegundahanku...
Langganan:
Postingan (Atom)
